Rabu, 02 November 2016

Filsafat Pendidikan

Filsafat Pendidikan
Berbagai pengertian filsafat pendidikan telah dikemukakan para ahli. Menurut al-Syaibany (1979:36), filsafat pendidikan adalah aktivitas pikiran yang teratur, yang menjadikan filsafat sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan. Artinya, filsafat pendidikan dapat menjelaskan nilai-nilai dan maklumat-maklumat yang diupayakan untuk pengalaman kemanusian merupakan faktor yang integral.

Filsafat pendidikan juga bisa didefinisikan sebagai kaidah filosofis dalam bidang pendidikan yang mengambarkan aspek-aspek pelaksanaan falsafah umum dan menitikberatkan pada pelaksanaan prinsip-prinsip dan kepercayaan yang menjadi dasar dari filsafat umum dalam upaya memecahkan persoalan-persoalan pendidikan secara praktis.

Menurut John Dewey, filsafat pendidikan merupakan suatu pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik yang menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan (emosional), menuju tabiat manusia. Sementara menurut Thompson, filsafat artinya melihat suatu masalah secara total dengan tanpa ada batas atau implikasinya, ia tidak hanya melihat tujuan, metode atau alat-alatnya, tapi juga meneliti dengan seksama hal-hal yang di maksud. Keseluruhan masalah yang dipikirkan oleh filosof tersebut merupakan suatu upaya untuk menemukan hakikat masalah, sefangkan suatu hakikat itu dapat di bakukan melalui proses kompromi (Arifin, 1993:2).

Menurut Imam Barnadib (1993:3), filsafat pendidikan merupakan ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam bidang pendidikan. Baginya filsafat pendidikan merupakan aplikasi sesuatu analisis filosofis terhadap bidang pendidikan. Sedangkan menurut seorang ahli filsafat amerika, Brubachen (Arifin,1993:3), filsafat pendidikan adalah seperti menaruh sebuah kereta di depan seekor kuda, dan filsafat dipandang sebagai bunga, bukan sebagai akar tunggal pendidikan. Filsafat pendidikan itu berdiri secara bebas dengan memperoleh keuntungan karena punya kaitan dengan filsafat umum. Kendati kaitan ini tidak penting, tapi yang terjadi ialah suatu keterpaduan antara pandangan filosofis dengan filsafat pendidikan, karena filsafat sering diartikan sebagai teori pendidikan dalam segala tahap.

Untuk mendapatkan pengertian filsafat pendidikan yang lebih sempurna (jelas), ada baiknya kita melihat beberapa konsep mengenai pengertian pendidikan itu sendiri. Pendidikan adalah bimbingan secara sadar dari pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya manusia yang memiliki kepribadian yang utama dan ideal. Yang dimaksud kepribadian yang utama atau ideal adalah kepribadian yang memiliki kesadaran moral dan sikap mental secara teguh dan sungguh-sungguh memegang dan melaksanakan ajaran atau prinsip-prinsip nilai filsafat yang menjadi pandangan hidup secara individu, masyarakat maupun filsafat bangsa dan negara.

Dalam pandangan John Dewey, pendidikan adalah sebagai proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, yang menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya rasa (emosi) manusia (Arifin,1987:1). Dalam hubungan ini, Al-Syaibani menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat dan kehidupan masyarakat dan kehidupan alam sekitarnya (Al-Syaibany,1979:399).

Lebih lanjut, soegarda poerwakawatja menguraikan bahwa pengertian pendidikan dalam arti yang luas sebagai semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuan, pengalaman, kecakapan dan keterampilannya kepada generasi muda, sebagai usaha menyiapkan generasi muda agar dapat memahami fungsi hidupnya, baik jasmani maupun rohani. Upaya ini dimaksudkan agar dapat meningkatkan kedewasaan dan kemampuan anak untuk memikul tanggung jawab moral dari segala perbuatannya (poerwakawatja, 1976:214). Proses pendidikan adalah proses perkembangan yang bertujuan. Dan tujuan dari proses perkembangan itu secara ailmiah ialah kedewasaan, kematangan dari kepribadian manusia. Dengan demikian, jelaslah bahwa pengertian pendidikan itu erat kaitannya dengan masalah yang dihadapi dalam kehidupan manusia.

Pendidikan diartikan sebagai suatu proses usaha dari manusia dewasa yang telah sadar akan kemanusiaannya dalam membimbing, melatih,mengajar, dan menanamkan nilai-nilai dan dasar-dasar pandangan hidup kepada generasi muda, agar nantinya menjadi manusia yang sadar dan beratnggung jawab akan tugas-tugas hidupnya sebagai manusia, sesuai dengan sifat hakiki dan ciri-ciri kemanusiaannya. Dengan kata lain, proses pendidikan merupakan rangkaian usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup manusia yang berupa kemampuan dasar kehidupan pribadinya sebagai makhluk individu dan makhluk sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitarnya agar menjadi pribadi yang bertanggung jawab.
Dengan demikian, dari uraian diatas dapat kita tarik suatu pengertian bahwa filsafat pendidikan sebagai ilmu pengetahuan normatif dalam bidang pendidikan merumuskan kaidah-kaidah norma-norma dan atau ukuran tingkah laku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia dalam hidup dan kehidupannya.


Filsafat, jika dilihat dari fungsinya secara praktis, adalah sebagai sarana bagi manusia untuk dapat memecahkan berbagai problematika kehidupan yang dihadapinya, termasuk dalam problematika dibidang pendidikan. Oleh karena itu, apabila dihubungkan dengan persoalan pendidikan secara luas, dapat disimpulkan bahwa filsafat merupakan arah dan pedoman atau pijakan dasar bagi tercapainya pelaksanaan dan tujuan pendidikan. Jadi, filsafat pendidikan adalah ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam bidang pendidikan yang merupakan penerapan analisis filosofis dalam lapangan pendidikan.

Keberadaan filsafat dalam ilmu pendidikan, menurut arifin, bukan merupakan insidental. Artinya, filsafat itu merupakan teori umum dari pendidikan, landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan. Filsafat mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menyelidiki aspek-aspek realita dan pengalaman yang banyak didapatkan dalam bidang pendidikan. Dengan melihat tugas dan fungsinya, maka pendidikan harus dapat menyerap, mengolah, menganalisis, dan menjabarkan aspirasi dan identitas masyarakat itu dalam jiwa generasi penerusnya. Untuk itu, pendidikan diharapkan bisa menggali dan memahami melalui pemikiran filosofis secara menyeluruh.

Dalam hubungan antara filsafat (umum) dan filsafat pendidikan, filsafat pendidikan memiliki beberapa batasan. Pertama, filsafat pendidikan merupakan pelaksana pandangan filsafat dan kaidah filsafat dalam bidang pengalaman kemanusiaan yang disebut pendidikan. Maka, filsafat pendidikan berusaha untuk menjelaskan dan menerangkan supaya pengalaman bermanusia ini sesuai dengan kehidupan baru. Filsafat pendidikan mengandung upaya untuk mencari konsep-konsep yang menempatkan manusia ditengah-tengah gejala-gejala yang bervariasi dalam proses pendidikan. Kemudian, terdapat pula upaya menjelaskan berbagai makna yang menjadi dasar dari konsep-konsep pendidikan dengan aspek-aspek tumpuan perhatian manusia.

Kedua, mempelajari filsafat pendidikan karena adanya kepercayaan bahwa kajian itu sangat penting dalam mengembangkan pandangan terhadap prosea pendisikan dalam upaya memperbaiki keadan pendisikan. Persoalan pendidikan yang berhubungan dengan bimbingan, penilaian, metode, dan lain-lain merupakan tanggung jawab filsafat pendidikan yang sangat bergantung pada usaha bbingan tingkah laku anak didik dan sikap mereka terhadap masyarakat.

Ketiga, filsafat pendidikan memiliki prinsip-prinsip, kepercayaan, konsep, andaian yang terpadu satu sama lainnya,. Prinsip-prinsip yang dimaksudkan ialah kepercayaan-kepercayaan, andaian-andaian yang dipercayai terhadap masalah-masalah pendidikan. Hal itu diungkap agar menjadi dasar atas pertanyaan, politik, rancangan, program, kurikulum, dan kaidah-kaidah pengajaran, yang tentunya diharapkan dapat menemukan solusi atas persoalan-persoalan pendisikan.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa filsafat pendidikan dapat dilakukan pada gejala macam dan bentuk pendidikan, termasuk pendidikan islam, dengan menentukan prinsip-prinsip dan kepwrcayaan-kepercayaan yang berasal dari ajaran islam atau sesuai dengan jiwa ajaran islamnyang mengandung kepentingan pelaksanaan dan bbingan dalam pendidikan. Mengingat antara filsafat dan pendidikan mempunyai keterkaitan erat dan kokoh, maka tugasnya pun sering, yakni berupaya bersama dalam memajukan hidup umat manusia (Arifin, 1993:3).

Sumber: filsafat pendidikan, manusia, filsafat dan pendidikan/ Prof. Dr. H . Jalaludin. Prof. Dr. H. Abdulllah Idi, M. Ed. Penerbit Rajawali Pres. PT RajaGrafindo Persada jakarta

Selasa, 01 November 2016

Pengertian Filsafat

Pengertian Filsafat
Kata filsafat berasal dari bahasa yunani kuno, yaitu dari kata "philos" dan "shopia". Philos artinya cinta yang sangat mendalam, dan shopia artinya kearifan atau kebijakan. Jadi arti filsafat secara harfiah adalah cinta yang sangat mendalam terhadap kearifan atau kebijakan. Istilah filsafat sering dipergunakan secara populer dalam kehidupan sehari-hari, baik secara sadar maupun tidak sadar. Dalam penggunaan secara populer, filsafat dapat diartikan sebagai suatu pendirian hidup (individu), dan dapat juga disebut pandangan hidup (masyarakat). Secara populer misalnya kita sering mendengar: " saya tidak suka terhadap filsafat anda tentang bisnis". "Pancasila merupakan satu-satunya falsafah hidup bangsa indonesia". Handerson(1959:16) mengemukakan: populary, philosophy means one's general view of life of women, of ideals. And of values, in the sense everyone has a philosophy of life". Di jerman dibedakan antara filsafat dengan pandangan hidup (weltanschaung). Filsafat diartikan sebagai suatu pandangan kritis yang sangat mendalam sampai ke akar-akarnya. Dalam pengertian lain, filsafat diartikan sebagai interprestasi atau evalusi terhadap apa yang penting atau apa yang berarti dalam kehidupan. Di pihak lain ada yang beranggapan bahwa filsafat sebagai cara berpikir yang kompleks, suatu pandangan yang tidak memiliki kegunaan prakris. Ada pula yang beranggapan, bahwa para filosof telah bertanggung jawab terhadap cita-cita masyarakat tertentu. Seperti halnya karl marx dan fedrick engels telah menciptakan komunisme. Thomas jefferson dan john stuart mill telah mengembangkan suatu teori yang dianut dalam nasyarakat demokratis. John Dewey adalah peletak dasar kehidupan pragmatis di Amerika. Filsafat dapat dipelajari secara akademis, diartikan sebagai suatu pandangan kritis yang sangat mendalam sampai ke akar-akarnya (radix) mengenai segala sesuatu yang ada (wujud). "Philosophy means the attempt to conceive and present inclusive and systematic view of universe and man's in it". (Henderson. 1959: 16). Demikian henderson mengatakan. Filsafat mencoba mengajukan suatu konsep tentang alam semesta secara sistematis dan inklusif dari manusia berada di dalamnya. Oleh karena itu, filosof lebih sering menggunakan intelegansi yang tinggi dibandingkan dengan ahli sains dalam memecahkan masalah-masalah hidupnya. Filsafat juga diartikan juga sebagai " Berpikir reflektif dan kritis" (reflektif and crirical thingking). Namun Randall dan Bunchler (1942) memberikan kritik terhadap pengertian tersebut, dengan mengemukakan bahwa definisi tersebut tidak memuaskan karena ada beberapa alasan yaitu:
1. Tidak menunjukkan karakteristik yang berbeda antara berpikir filosofi dengan fungsi-fungsi kebudayaan dan sejarah,
2. Para ilmuwan juga berpikir reflektif dan kritis, padahal antara sains dan filsafat berbeda,
3. Ahli hukum, ahli ekonomi, juga ibu rumah tangga sewaktu-waktu berpikir reflektif dsn kritis, padahal mereka bukan filosof atau ilmuwan.
Dalam Al-Quran  dan budaya arab terdapat istilah "hikmat" yang berarti arif atau bijak. Filsafat itu sendiri bukan hikmat, melainkan cinta yang sangat mendalam terhadap hikmat. Dengan pengertian tersebut, maka filosof ialah orang yang mencintai dan mencari hikmat dan berusaha mendapatkannya. Menurut Al-Syibany (1979), hikmat mengandung kematangan pandangan dan pikiran yang jauh, pemahaman dan pengamatan yang tidak dapat di capai oleh pengetahuan saja. Dengan hikmat, filosof akan mengetahui pelaksanaan pengetahuan dan dapat melaksanakannya.
Selanjutnya Al-Syaibany mengemukakan bahwa hikmat yang dicintai oleh filosof dan selalu berusaha mencapainya mengandung lima unsur, yaitu universal, pandangan yang luas, cerdik, pandangan perenungan (mediatif, spekualtif), dan mengetahui pelaksanaan pengetahuan tersebut atau pengetahuan yang disertai dengan tindakan yang baik. Jadi, filosof atau orang arif memiliki pendangan yang serba mungkin sebatas kemampuannya.
Menurut Harlod Titus (1959) mengemukakan pengertian filsafat dalam arti sempit maupun dalam arti luas. Dalam arti sempit filsafat diartikan sebagai sains yang berkaitan dengan metodologi atau analisis bahasa secara logis dan analisis makna-makna. Filsafat diartikan sebagai "science of science". Dimana tugas utamanya memberi konsep sains.
Pada bagian lain Harlod Titus mengemukakan makna filsafat, yaitu:
1. Filsafat adalah suatu sikap tentang hidup dan alam semesta:
2. Filsafat adalah suatu metode berpikir reflektif, dan penelitian penalaran:
3. Filsafat adalah suatu perangkat masalah-masalah:
4. Filsafat adalah seperangkat teori dan sistem berpikir.
Berfilsafat merupakan salah satu kegiatan manusia memiliki peran yang penting dalam menentukan dan menemukan eksistensinya.
Dari uraian di atas penulis dapat disimpulkan bahwa berfilsafat merupakan kegiatan berpikir manusia yang berusaha untuk mencapai kebijakan dan kearifan. Filsafat berusaha merenungkan dan membuat garis besar dari masalah - masalah dan peristiwa-peristiwa yang pelik dari pengalaman umat manusia. Dengan kata lain filsafat sampai kepada merangkum (sinopsis) tentang pokok-pokok yang ditelahnya.

Sumber: Pengantar Filsafat Pendidikan: Drs. Uyoh Sadulloh. M.Pd./Penerbit Alfabeta.Bandung.